Archive
August, 2010
Browsing all articles from August, 2010
Comments Off

rakaat dalam sholat terawih

Shalat tarawih adalah shalat malam berjama’ah pada bulan Ramadhan. Waktunya, mulai dari selesai shalat Isya’ sampai terbit fajar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan agar melaksanakannya.
Sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

???? ????? ????????? ????????? ????????????? ?????? ???? ??? ????????? ???? ???????? ???? ??????? ? ????

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan balasan, maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat”.[1]

Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha : “Pada suatu malam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di masjid. Lalu beberapa orang bermakmum kepada Beliau. Kemudian malam berikutnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, dan orang (makmum) bertambah banyak. Mereka pun berkumpul pada malam ketiga atau keempat, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar. Pagi harinya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

???? ???????? ??????? ?????????? ?????? ??????????? ???? ?????????? ?????????? ?????? ?????? ??????? ???? ???????? ?????????? ????? ???????? ??? ????????? ???? ???????

“Aku telah melihat perbuatan kalian. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar kepada kalian (untuk shalat), kecuali kekhawatiranku, kalau-kalau itu difardhukan atas kalian”. [2]

a. JUMLAH RAKA’AT SHALAT TARAWIH

Permasalahan mengenai jumlah raka’at shalat tarawih, selalu mengemuka setiap memasuki bulan Ramadhan. Berikut kami angkat permasalahan ini, yang kami nukil dari pembahasan yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, ketika beliau rahimahullah menanggapi sebuah risalah yang ditulis berkaitan dengan pelaksanaan shalat tarawih, baik menyangkut jumlah raka’atnya, maupun lama kecepatan shalatnya.

????? ??? ?? ???????? ??????? ? ?????? ??? ????? ???? ???? ??????? ???? ??? ????? ?????? ??? ???

Aku sudah menelaah sebuah risalah tentang shalat tarawih yang ditujukan kepada kaum muslimin. Telah sampai kabar kepadaku, risalah ini dibacakan di beberapa masjid. Risalah ini sangat bagus. Di dalamnya penulis mendorong agar khusyu’ dan tuma’ninah (perlahan) dalam melaksanakan shalat tarawih. Semoga Allah memberikan balasan yang baik atas kebaikannya. Namun, ada beberapa koreksi terhadap risalah ini, yang wajib dijelaskan. Diantaranya sebagai berikut:

b. PENULIS RISALAH INI MENUKIL RIWAYAT DARI IBNU ABBAS RADHIYALLAHU ‘ANHUMA, BAHWA NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM SHALAT 20 RAKA’AT PADA BULAN RAMADHAN.[3]

Jawabnya:
Hadits ini dhaif (lemah). Dalam Syarah Shahih Bukhari (2/524) Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan: “Adapun hadits yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat 20 raka’at dan witir pada bulan Ramadhan, maka isnad (jalur periwayatannya) hadits ini lemah dan bertentangan dengan hadits ‘Aisyah yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, padahal Aisyah orang yang paling mengetahui perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam hari, dibandingkan dengan lainnya”.

Hadits Aisyah yang dimaksudkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah ialah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari (3/59), Muslim (2/166) dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Bahwa Abu Salamah bin Abdurrahman Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu ‘anha perihal shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan. Aisyah Radhiyallahu ‘anha menjawab:

??? ????? ??????? ??? ????????? ????? ??? ???????? ????? ??????? ???????? ???????? ??? ????? ????? ???????? ??????? ????????? ????? ??????? ???? ??????? ? ????

“Pada bulan Ramadhan, Beliau tidak pernah melebihkan dari 11 rak’at. (Begitu) juga pada bulan lainnya. (Dalam hadits riwayat Muslim) Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat 8 raka’at, lalu melakukan witir”.

Dengan langgam bahasanya yang keras/tegas, hadits Aisyah ini memberikan kesan pengingkaran terhadap tambahan lebih dari bilangan (sebelas) ini. Sedangkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma tentang cara shalat malam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia mengatakan:

???????? ???????????? ????? ???????????? ????? ???????????? ????? ???????????? ????? ???????????? ????? ???????????? ????? ???????? ???? ????

“Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat 2 raka’at, kemudian 2 raka’at, kemudian 2 raka’at, kemudian 2 raka’at, kemudian 2 raka’at, kemudian 2 raka’at, kemudian witir”. [HR Muslim 2/179]

Dengan ini menjadi jelas, bahwa shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam hari itu, berkisar antara 11 dan 13 raka’at.

Jika ada yang mengatakan, bahwa shalat malam yang diterangkan dalam hadits ini bukanlah shalat Tarawih, karena Tarawih merupakan sunnah yang dikerjakan Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu.

Maka jawabnya : Shalat malam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan itulah (yang disebut) Tarawih. Mereka menamakannya Tarawih (istirahat), karena mereka memanjangkan shalatnya lalu istirahat setelah dua kali salam. Oleh karena itu dinamakan Tarawih (istirahat). Dan Tarawih termasuk sunnah perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam Syarah Shahih Bukhari (3/10) dan Shahih Muslim (2/177), dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha disebutkan, pada suatu malam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di masjid, lalu beberapa orang shalat (bermakmum) di belakang Beliau. Kemudian malam berikutnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, lalu makmum bertambah banyak. Kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak kunjung keluar. Pagi harinya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

???? ???????? ??????? ?????????? ?????? ??????????? ???? ?????????? ?????????? ?????? ?????? ??????? ???? ???????? ?????????? ????? ???????? ??? ????????? ???? ??????? ? ????

“Aku telah melihat perbuatan kalian. Tidak ada yang menghalangi untuk keluar kepada kalian (untuk shalat), kecuali kekhawatiranku kalau itu difardlukan atas kalian”.[4]

Jika ada yang mengatakan: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membatasi diri dengan bilangan raka’at ini. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang untuk menambah bilangan ini, karena menambahkan bilangan raka’at merupakan kebaikan dan pahala.

Jawabnya : Bisa jadi kebaikan itu ada pada pembatasan diri dengan bilangan ini, karena itu merupakan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika kebaikan itu terdapat pada pembatasan dengan bilangan ini, maka membatasi diri dengan bilangan ini merupakan perbuatan yang lebih utama.

Bisa jadi juga kebaikan itu ada pada penambahan bilangan. Jika demikian, berarti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kurang dalam melakukan kebaikan dan rela menerima yang kurang daripada yang lebih utama dengan tanpa memberikan penjelasan kepada umatnya. Demikian ini hal yang mustahil.

Jika ada yang mengatakan: Lalu bagaimana menanggapi hadits yang diriwayatkan Imam Malik dalam Muwattha’, dari Yazid bin Ruman, dia mengatakan: “Dahulu pada zaman Umar, orang-orang melaksanakan shalat (tarawih) 23 raka’at di bulan Ramadhan”. [Muwattha’ Syarah Az Zarqani, 1/239].

Jawabnya : Hadits ini memiliki illat (salah satu sebab lemahnya hadits) dan bertentangan. Illatnya adalah sanadnya munqhati’ (terputus), karena Yazid bin Ruman tidak pernah ketemu Umar, sebagaimana dikatakan oleh ahli hadits, misalnya Imam Nawawi dan yang lainnya.

Segi pertentangannya, hadits ini bertentangan dengan yang diriwayatkan Imam Malik dalam Muwattha’ dari Muhammad bin Yusuf -dia ini tsiqat tsabat (terpercaya sekali)- dari Saib bin Yazid (dia adalah seorang sahabat), dia mengatakan: “Umar bin Khaththab memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Dari agar mengimami orang dengan sebelas raka’at”. [Muwattha’ Syarah Az Zarqani, 1/138].

Dilihat dari tiga segi, sesungguhnya hadits yang kedua ini arjah (lebih kuat) dibandingkan dengan hadits Yazid bin Ruman.

Pertama : Amalan (11 raka’at) ini lebih lurus dan lebih bagus, karena sesuai dengan bilangan raka’at yang sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Umar Radhiyallahu ‘anhu tidak akan memilih, kecuali yang sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam manakala ia tahu. Sangat kecil kemungkinan beliau Radhiyallahu ‘anhu tidak mengetahui tentang bilangan ini.

Kedua : Hadits Saib bin Yazid mengenai 11 raka’at dinisbatkan (dikaitkan) kepada Umar. Jadi itu merupakan perkataan Umar. Sedangkan hadits Yazid bin Ruman mengenai 23 raka’at dikaitkan dengan masa Umar ; jadi itu merupakan iqrar (persetujuan) Umar, sedangkan perkataan lebih kuat (kedudukannya) daripada iqrar. Karena perkataan (menunjukkan kejelasan pilihan. Adapun iqrar, kadang untuk sesuatu yang mubah bukan pada pilihan. Umar mengakui (perbuatan) mereka 23 raka’at, karena tidak ada larangan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan mereka bisa berijtihad dalam masalah ini. Lalu Umar mengakui ijtihad mereka, meskipun memilih sebelas raka’at, berdasarkan perintahnya kepada Ubay.

Ketiga : Hadits Saib bin Yazid mengenai 11 raka’at bersih dari illat, sanadnya bersambung. Sedangkan hadits Yazid bin Ruman memiliki illat (sebab tersembunyi yang bisa melemahkan hadits-pent), sebagaimana penjelasan di muka. Dan juga rekomendasi ketsiqahan sang perawi dari Saib bin Yazid yaitu Muhammad bin Yusuf lebih kuat daripada rekomendasi terhadap ketsiqahan Yazid bin Ruman. Mengenai perawi dari Saib bin Yazid yaitu Muhammad bin Yusuf dikatakan, dia ini tsiqah tsabat (terpercaya sekali). Sedangkan Yazid bin Ruman dianggap, dia ini tsiqah. Demikian ini merupakan salah satu bentuk tarjih (penguatan) dalam ilmu musthalah hadits.

Meskipun hadits Yazid bin Ruman mengenai 23 raka’at ini dianggap sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak memiliki illat dan tidak bertentangan, namun hadits ini tidak bisa diutamakan dari (hadits tentang) bilangan raka’at yang biasa dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah pada bulan Ramadhan ataupun pada bulan lainnya.

Menanggapi perselisihan ini, maka wajib bagi kita untuk membaca firman Allah Azza wa Jalla surat An Nisa’ ayat 59, yang artinya: “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Allah mewajibkan kita agar kembali kepada Allah, yaitu kitabNya dan kepada RasulNya ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, atau kepada sunnahnya kala Beliau sudah meninggal. Allah juga memberitahukan, jalan ini adalah jalan terbaik dan terbagus akibatnya.

Allah juga berfirman, yang artinya: “Maka demi Rabb-mu, (pada hakikatnya) mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuh hati”. [An Nisa’:65].

Allah menjadikan berhukum kepada Rasulullah pada perselisihan yang timbul diantara manusia sebagai salah satu tuntutan keimanan. Allah menyatakan “tidak beriman” dengan pernyataan yang diperkuat dengan sumpah terhadap orang yang tidak berhukum kepada Rasul, tidak puas dengan hukumnya dan tidak taat kepadanya.

Dalam sebuah khutbahnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

?????? ?????? ??????? ?????? ?????????? ??????? ??????? ???????? ???????? ????? ?????????

Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[5]

Ini masalah yang sudah pasti disepakati oleh seluruh kaum muslimin. Bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Petunjuk Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dibandingkan dengan petunjuk orang lain, siapapun juga. Bahkan jika ada kebaikan pada petunjuk seseorang, maka itu semua berasal dari petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan para sahabat memberikan peringatan keras terhadap perbuatan mempertentangkan antara sabda Rasulullah dengan perkataan orang lain, antara petunjuknya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan petunjuk orang lain. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:

???????? ???? ???????? ?????????? ????????? ???? ?????????? ???????? ????? ???????? ????? ?????????????? ????? ?????? ?????? ????????

“Hampir saja kalian dihujani batu dari langit, aku mengatakan “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda” (sedangkan) kalian mengatakan “Abu Bakar dan Umar mengatakan”.

Bahkan ketika Umar dihadapkan kepadanya dua orang yang saling berselisih, maka terhadap orang yang tidak ridha dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Umar Radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Apakah seperti ini?”, lalu ia membunuhnya. Riwayat ini disebutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Tauhid, dan dalam syarahnya Taisir Azizil Hamid, halaman 510. Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan: “Kisah ini masyhur dan beredar di kalangan ulama Salaf dan Khalaf dengan peredaran yang tidak membutuhkan sanad. Dia memiliki beberapa jalur periwayatan. Kelemahan sanadnya tidak mengakibatkannya cela”.[6]

Jika dikatakan kepada seorang muslim: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami jama’ah dengan 11 atau 13 raka’at, sedangkan yang lainnya mengimami orang dengan 23 atau 39 raka’at.

Maka tidak ada pilihan bagi seorang muslim, kecuali mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengamalkan petunjuknya. Karena perbuatan yang sesuai dengan Rasulullah adalah amal terbaik dan lurus. Dan tujuan Allah menciptakan manusia, langit dan bumi adalah agar manusia melakukan yang terbaik. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat Al Mulk ayat 2, yang artinya: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Juga firmanNya dalam surat Hud ayat 7, yang artinya: Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah ‘ArsyNya di atas air, agar Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya. Allah tidak mengatakan “agar Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih banyak amalnya”.

Sudah diketahui bersama, bahwa suatu amal, semakin diikhlaskan hanya kepada Allah semata dan semakin berittiba’ kepada Rasulullah, maka amal itu pasti semakin baik. Jadi 11 atau 13 raka’at lebih baik daripada ditambah, karena keselarasannya dengan hadits yang sah dari Rasulullah n , sehingga ia lebih utama dan lebih baik. Apalagi jika shalatnya dilakukan dengan perlahan, khusyu’ konsenterasi serta tuma’ninah, yang memungkinkan bagi makmum dan imam untuk berdo’a dan berdzikir.

Jika dikatakan: Sesungguhnya shalat 23 raka’at adalah sunnah yang dilakukan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, dan merupakan salah satu dari Khulafa’ur Rasyidin, yang kita diperintahkan agar mengikutinya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa’ur rasyidin yang mendapatkan petunjuk sepeninggalku”.[7]

Jawabnya : Demi, Allah! Sungguh Umar Radhiyallahu ‘anhu benar-benar termasuk Khulafa’ ur Rasyidin, dan kita diperintahkan agar mengikuti sunnahnya. Bahkan dia termasuk salah satu dari dua orang agar kita meneladani keduanya. Rasulullah memerintahkan kepada kita dengan sabdanya:

?????? ??? ??????? ??? ???????? ??????? ??????????? ????????????? ???? ??????? ????? ?????? ????????

“Sungguh saya tidak tahu, masih berapa lama lagi saya akan bersama kalian. Maka sepeninggalku, ikutilah Abu Bakar dan Umar”. [Diriwayatkan oleh Tirmidzi].

Umar Radhiyallahu ‘anhu juga seorang yang diterangkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya:

????? ??????? ?????? ???????? ????? ??????? ?????? ??????????

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan al haq (kebenaran) pada lisan dan hati Umar”. [Diriwayatkan Tirmidzi].

Umar Radhiyallahu ‘anhu juga orang yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya:

?????? ????? ?????? ?????????? ???? ????????? ???????????? ?????? ???? ??? ???????? ?????? ????????? ??????

“Sungguh telah ada pada umat sebelum kalian, (yaitu) suatu kaum yang mendapatkan ilham. Dan jika ada pada umatmu seorang yang mendapatkan ilham, maka sessugguhnya orang itu adalah Umar”. [Muttafaqun ‘alaih].[10]

Yang menjadi permasalahan, manakah sunnah Umar Radhiyallahu ‘anhu yang menunjukkan bilangan raka’at tarawih? Sesungguhnya penetapan sunnah Umar pada 23 raka’at merupakan sesuatu yang mustahil. Telah dijelaskan bahwa keabsahan sanadnya –terlebih lagi penentuan sunnahnya- memiliki illat (salah satu tanda lemahnya hadits) dan bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat sanadnya, kandungannya dan lebih lurus amalannya. Yang sah dari Umar, beliau z memerintahkan kepada Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Dariy agar mengimami manusia dengan 11 raka’at. [11]

Kemudian, anggapan sahnya riwayat penentuan bilangan 23 raka’at berasal dari Umar Radhiyallahu ‘anhu, ini juga tidak bisa dijadikan hujjah (yang mengalahkan) perbuatan Rasulullah dan juga tidak bisa menjadi tandingan baginya. Berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan perkatan-perkataan para sahabat serta Ijma’ (kesepakatan ulama’), bahwa sunnah Rasulullah tidak akan bisa disamai oleh sunnah orang lain. Siapapun orangnya, tidak bisa menentangnya.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,”Seluruh kaum muslimin telah sepakat, bahwa orang yang sudah jelas bagi sunnah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka haram baginya untuk meninggalkan sunnah tersebut disebabkan oleh perkataan seseorang.”

c. PENULIS RISALAH MENYATAKAN : SESUNGGUHNYA KAUM MUSLIMIN SENANTIASA (MELAKSANAKAN) 23 RAKA’AT SEJAK ZAMAN SHABAT SAMPAI MASA KITA INI, SEHINGGA MENJADI IJMA’.

Jawabnya:
Yang benar, tidaklah demikian. Perbedaan pendapat telah ada sejak masa sahabat sampai sekarang. Perbedaan ini disebutkan dalam Fath-hul Bari (4/253), Cet. As Salafiyah, yang ringkasnya, 11, 13, 19, 21, 23, 25, 27, 35, 37, 39 [ini (maksudnya 39) dilakukan di Madinah pada masa pemerintahan Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz. Imam Malik mengatakan: “Perbuatan ini sudah dilakukan sejak seratusan tahun lebih”], 41, 47 dan 49. (Untuk lebih jelasnya mengenai pelaksanaan shalat tarawih dengan bilangan raka’at ini, silahkan lihat majalah As Sunnah, Edisi 07/VII/2003, Pent).

Jika telah jelas adanya perbedaan, maka yang menjadi hakim pemutus dalam masalah ini adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah, yang artinya: “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. [An Nisa':59]

?????? ??? ?? ???????? ???? ???? ??? ????? ???? ??????? ????? ??????

d. LAMANYA PELAKSANAAN SHALAT TARAWIH

Sebagaimana kita lihat, banyak orang melaksanakan shalat tarawaih dengan mempercepat, bahkan terkesan tergesa-gesa. Untuk memperjelas permasalahan ini, berikut kami nukilkan pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, berkaitan dengan tempo atau lamanya cara melaksanakan shalat tarawih.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menerangkan:
Sangat jelas keterangan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperpanjang shalat malamnya. Begitu pula ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi imam.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ketika ia Radhiyallahu ‘anhu shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperpanjang shalatnya sampai Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkeinginan untuk duduk dan meninggalkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [12] Lihat Al Fath-hul Bari (3/19) dan Shahih Muslim (1/537).

Sebagaimana juga pada hadits Hudzaifah [13]. Suatu ketika, ia z shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisa’. Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati ayat yang mengandung tasbih, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertasbih. Jika melewati ayat do’a, Beliau berdo’a. Jika melewati ayat tentang perlindungan, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan. Lihat Shahih Muslim (1/536-537).

Jelaslah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para sahabat selama tiga malam pada bulan Ramadhan, dan tidak pada malam ke empat, sebagaimana dalam Shahih Bukhari [14]. Lihat Al Fath (4/253) dan Muslim (1/524).

Begitu pula, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para sahabatnya ketika Ramadhan tersisa 7 hari sampai 1/3 malam, pada malam kedua sampai ½ malam, dan pada malam ketiga sampai mereka (khawatir) tidak bisa sahur. Hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad dan ulama penyusun kitab Sunan. Menurut para ulama penyusun kitab Sunan, perawinya adalah shahih, sebagaimana disebutkan di dalam Nailul Authar.

Perbuatan memanjangkan inilah yang dilakukan oleh para ulama salafush shalih dari kalangan para sahabat dan tabi’in, sebagaimana diterangkan dalam kitab Muwattha’, karya Imam Malik. Lihat Syarah Az Zarqani (1/238-240).

Beda antara hadits ini (yaitu tentang memanjangkan bacaan) dengan hadits Muadz Radhiyallahu ‘anhu tentang larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz Radhiyallahu ‘anhu dari memanjangkan bacaan (yang dimaksud dengan memanjangkan disini adalah melebihkan dari yang diterangkan dalam sunnah), yaitu hadits memanjangkan ini untuk shalat nafilah (hukumnya sunat) yang diperbolehkan bagi orang untuk tidak ikut berjama’ah dan meninggalkannya. Sedangkan hadits Mu’adz (tentang larangan memanjangkan bacaan) itu pada shalat fardhu yang tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk meninggalkan jama’ah dan mufaraqah (keluar) dari jama’ah, kecuali dengan alas an syar’i. Jadi mereka wajib meniatkannya dan menyempurnakannya. [Lihat Majmu’ Fatawa, hlm. 257-258].

Kesimpulan, kedua hadits itu tidak bertentangan.

Demikianlah beberapa masalah yang berkaitan dengan shalat tarawih. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi, 07/Tahun VIII/1425/2004M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta.

Footnote:
[1]. Muttafaq ‘alaih, dari hadits Abu Hurairah, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Al Iman, Bab: Tathawu’ Qiyami Ramadhan Min Al Iman, no. 37 dan Muslim dalam Shalat Al Musafirin, Bab: At Targhibu Fi Qiyami Ramadhan, no. 173 (759).
[2]. Muttafaq ‘alaih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam At Tahajjud, Bab: Tahridhu An Nabi ‘Ala Shalat Al Lail, no. 1.129 dan Muslim dalam Shalat Al Musafirin, Bab: At Targhibu Fi Qiyami Ramadhan, no. 177 (761).
[3]. HR Baihaqi dalam kitab Ash Shalat, Bab: ‘Adadu Raka’ati Al Qiyam … 2/496. Lihat At Talkhish Al Habir, 2/45 (541) dan perhatikan hlm. 246.
[4]. Muttafaq ‘alaih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam At Tahajjud, Bab Tahridhu An Nabi ‘Ala Shalat Al Lail, no. 1.129 dan Muslim dalam Shalat Al Musafirin, Bab At Targhibu Fi Qiyami Ramadhan, no. 177 (761).
[5]. HR Muslim dalam kitab Al Jum’ah, Bab: Takhfifu Ash Shalati Wa Al Khutbati, no. 867.
[6]. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan dalam Al Fath (5/37),”Ini diriwayatkan oleh Al Kalbi dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas … Meskipun sanadnya lemah, tetapi menjadi kuat dengan jalur Mujahid.” Lihat jilid 10/741 dari Majmu’ Fatawa Wa Rasail.
[7]. Diriwayatkanoleh Abu Dawud dalam As Sunnah, Bab: Luzumus Sunnah, no. 4.607.
[8]. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Manakib Abu Bakar dan Manakib Umar Radhiyallahu ‘anhuma, no. 3.662.
[9]. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Manakib Umar c , no. 3.672, dan ia mengatakan hadits ini hasan.
[10]. Diriwayatkan Imam bukhari dalam Fadhailu Ashabi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Bab: Manakib Umar, no. 3.679 dari hadits Abu Hurairah dan Imam Muslim dalam Fadhailush Shahabat, Bab: Fadhail Umar dari hadits Aisyah, no. 2.398.
[11]. Dalam kitab Ash Shalat, Bab: Ma Ja’a Fi Qiyami Ramadhan, 1/110 (280).
[12]. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam At Tahajjud, Bab: Thulu Al Qiyam Fi Shalat Al Lail, no. 1.135 dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shalat Musafirin, Bab: Istihbab Tathwili Al Qira’ah Fi Shalat Al Lail, 204 (773).
[13]. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.
[14]. Muttafaqun ‘alaihi, dari hadits Aisyah, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam At Tahajjud, Bab: Tahridhu An Nabi ‘Ala Shalat Al Lail, no. 1.129 dan Muslim dalam Shalat Al Musafirin, Bab At Targhibu Fi Qiyami Ramadhan, no. 177 (761).

Comments Off

daftar frekuensi tv mhz

BTV ( Bekasi TV )————487,25 Mhz
CTV————————-511,25 Mhz
Space toon——————519,25 Mhz
Trans TV——————–535,25 Mhz
TPI————————- 599,25 Mhz
Indosiar——————— 631,25 Mhz
RCTI———————— 647,25 Mhz
SCTV———————– 663,25 Mhz
ANTV———————–679,25 Mhz
Trans 7———————695,25 Mhz
Global TV——————-711,25 Mhz
TV ONE———————727,25 Mhz
TVRI————————615,25 Mhz
Jak TV———————-743,25 Mhz
Metro TV——————-759,25 Mhz
DAAI TV——————–775,25 Mhz
O’ Chanel——————-567,25 Mhz
EL SHINTA——————583,25 Mhz
TV 3———————– 575,25 Mhz

Incoming search terms:

  • global tv mhz
  • Frekuensi tv
  • trans tv Mhz
  • frekuensi tv indonesia
  • frekuensi tv indonesia mhz
  • frekuensi trans7
  • frekuensi tv jakarta
  • daftar frekuensi tv
  • Global tv berapa mhz
  • frekuensi tv Mhz
Comments Off

kode rahasia handphone

  1. Menampilkan nomor IMEI (International Mobile Equipment Identity) *#06#
  2. Mereset kembali ke bahasa inggris *#0000# atau 0000
  3. Melihat service menu dan versi software. Tekan tombol Yes berulang kali untuk melihat semua data software dan tekan > untuk melihat semua teks yang terdapat pada ponsel. >*<<*<*
  4. Untuk mengunci SIM Card agar tidak bisa mengganti SIM Card. Untuk membukanya dengan unlock code. <**<
  5. Mengunci layanan provider. *<<*
  6. Mengakses ponsel tanpa SIM Card. **04*0000*0000*0000#
  7. Melihat nomor terakhir yang ditelepon. 0#

  1. *#06# Menampilkan nomor IMEI (International Mobile Equipment Identity).
  2. *#303# OK Mengubah ke bahasa inggris.
  3. *#300# OK Menampilkan versi software (SW and HW Version).
  4. *#301# OK Test keypad.
  5. 1234 OK Kode default ponsel.
  6. *#311# OK Merubah kode ponsel default.
  7. ***113*1* OK Net Monitor ON.
  8. **113*1* OK Net Monitor OFF.
  9. *#304# OK Set Off engineering mode.
  10. *#304*1998072# OK Set On engineering mode.
  11. *#307* OK Engineering test mode.
  12. *#400# OK ADC call val.
  13. 19980722 OK Master unlock code for phone and sim lock.
  14. *#0000# OK Setting and restore.
  15. *#402# OK Contrast
  16. *#305# OK Location 1

  1. Melihat IMEI (International Mobile Equipment Identity). * # 0 6 #
  2. Melihat versi software, tanggal pembuatan softwre dan jenis kompresi software. * # 0 0 0 0 # Jika tidak berhasil coba * # 9 9 9 9 #
  3. Melihat status call waiting. * # 4 3 #
  4. Melihat nomor / nomer private number yang menghubungi ponsel anda. * # 3 0 #
  5. Menampilkan nomer pengalihan telepon all calls. * # 2 1 #
  6. Melihat nomor penelepon pada pengalihan telepon karena tidak anda jawab (call divert on). * # 6 1 #
  7. Melihat nomor penelepon pada pengalihan telepon karena di luar jangkauan (call divert on). * # 6 2 #
  8. Melihat nomor penelepon pada pengalihan telepon karena sibuk (call divert on).  * # 6 7 #
  9. Merubah logo operator pada nokia type 3310 dan 3330.  * # 6 7 7 0 5 6 4 6 #
  10. Menampilkan status sim clock. * # 7 4 6 0 2 5 6 2 5 #
  11. Berpindah ke profil profile ponsel anda. Caranya tekan tombol power off tanpa ditahan
  12. Merubah seting hp nokia ke default atau pabrikan. * # 7 7 8 0 #
  13. Melakukan reset timer ponsel dan skor game ponsel nokia. * # 7 3 #
  14. Melihat status call waiting. * # 4 3 #
  15. Melihat kode pabrik atau factory code. * # 7 7 6 0 #
  16. Menampilkan serial number atau nomer seri hp, tanggal pembuatan, tanggal pembelian, tanggal servis terakhir, transfer user data. Untuk keluar ponsel harus direset kembali. * # 92702689 #
  17. Melihat kode pengamanan ponsel anda. * # 2 6 4 0 #
  18. Melihat alamat ip perangkat keras bluetooth anda.  * # 2 8 2 0 #
  19. Mengaktifkan EFR dengan kualitas suara terbaik namun boros energi batere. Untuk mematikan menggunakan kode yang sama. * # 3 3 7 0 #
  20. Mengaktifkan EFR dengan kualitas suara terendah namun hemat energi batere. Untuk mematikan menggunakan kode yang sama. * # 4 7 2 0 #
  21. Menuju isi phone book dengan cepat di handphone nokia. Caranya tekan nomer urut lalu # contoh : 150#
  22. Mengalihkan panggilan ke nomor yang dituju untuk semua panggilan.  * * 2 1 * Nomor Tujuan #
  23. Mengalihkan panggilan ke nomor yang dituju untuk panggilan yang tidak terjawab. * * 6 1 * Nomor Tujuan #
  24. Mengalihkan panggilan ke nomor yang dituju untuk panggilan ketika telepon hp anda sedang sibuk.
  25. * * 6 7 * Nomor Tujuan #

Keterangan Tambahan :
- Kode diinput tanpa spasi

  1. *#06# Menampilkan nomor IMEI (International Mobile Equipment Identity).
  2. *#9999# atau *#9998*9999# Menampilkan versi software.
  3. *#9999# atau *#9998*8888# Menampilkan versi hardware.
  4. *#9998*76# Menampilkan nomor produksi.
  5. *#9998*288# atau *#0288# Mengecek status baterai.
  6. *#0246# atau *#0377# Menampilkan kapasitas ruang penyimpanan / memori.
  7. *#9998*782# atau *#0782# Menampilkan tanggal dan waktu alarm.
  8. *#8999*638# Menampilkan informasi jaringan telepon.
  9. *#9998*523# atau *#0523# Mengatur kontras layar.
  10. *#8999*5646# Mengubah logo operator.
  11. *#0289# Tes ringtone.
  12. *#9998*842# atau *#0842# Tes vibrate.
  13. *#9998*289# atau *#0289# Mengubah suara alarm.
  14. *#9998*746# atau *#0746# Melihat informasi kartu SIM
  15. *2767*2878# Mengunci ponsel.
  16. *2767*3855# Mereset memori, jangan lupa mencabut kartu SIM.
  17. *#0324# Net Monitor
  18. *#0001# Display RS232 serial communication parameter setup.
  19. *9266# Display received channel number and received intensity.
  20. *#9998*377# atau *#0377# Software error LOG (wrong display of EEPROM).
  21. *#9998*778# atau *#0778# SIM Service Table.
  22. *#0837# Instruction Software.
  23. *#0001# Show Serial Parameter.
  24. *#9998*968# View Melody Alarm.
  25. *#9998*585# Non Volatile Memory.
  26. *#3243948# Digital Audio Interference off.
  27. *#32436837# Digital Audio Interference.
  28. *#9998*4357# Help Menu.
  29. *#9998*5282# Java Menu.
  30. *2767*5282# Java Reset.
  31. *2767*927# WAP Reset.
  32. *2767*63342# Reset Media.
  33. *#9999#0# Monitor Mode.

  1. *#06# Menampilkan nomor IMEI (International Mobile Equipment Identity).
  2. *#0000# Mengembalikan ke bahasa default.
  3. **05*PUK*newPIN*newPIN# Deblock PIN using PUK.
  4. **052*PUK2*newPIN2*newPIN2# Deblock PIN2 using PUK2.
  5. **04*old_PIN*new_PIN*new_PIN# Mengubah PIN.
  6. **042*old_PIN2*new_PIN2*new_PIN2# Mengubah PIN2.
  7. *31# Menyembunyikan nama/nomor telepon pada ponsel penerima (CLIR).
  8. #31# Menonaktifkan CLIR.
  9. *#31# Mengecek status CLIR.
  10. *30# Menampilkan nama/nomor telepon pada ponsel penerima (CLIP).
  11. #30# Menonaktifkan CLIP.
  12. *#30# Mengecek status CLIP.
  13. *43# Mengaktifkan Call Waiting/Call Hold.
  14. #43## Menonaktifkan Call Waiting.
  15. *#43# Mengecek status Call Wating.
  16. *#0001# lalu tekan tombol hijau (Call) Mengubah bahasa menggunakan kode. Angka 0001 adalah kode untuk bahasa inggris. Kode: 0030 (Yunani), 0031 (Belanda), 0032 (Perancis), 0034 (Spanyol), 0039 (Itali), 0049 (Jerman), 0090 (Turki).
  17. *#0606# Shows if the phone is locked to any network (Use without SIM card).

  1. *#06# Menampilkan nomor IMEI (International Mobile Equipment Identity).
  2. *#0000# Mengembalikan ke bahasa default.
  3. *#0001# lalu tekan tombol hijau (Call) Mengubah bahasa menggunakan kode. Angka 0001 adalah kode untuk bahasa inggris. Kode: 0030 (Yunani), 0031 (Belanda), 0032 (Perancis), 0034 (Spanyol), 0039 (Itali), 0049 (Jerman), 0090 (Turki)
  4. *#9999# Mereset ke setingan awal (pabrikan).
  5. *#300# Mengecek software.
  6. *#301# Mengecek hardware.

  1. *#06# Menampilkan nomor IMEI (International Mobile Equipment Identity).
  2. *#07# Menampikan nomor IMEI dan versi software (LG 510).
  3. *8375# Menampilkan versi software (LG B1200).
  4. #PWR668 Test pabrikan (LG B1200).
  5. 1945#5101# Simlock menu (LG B1200).
  6. 2945#*5101# Simlock menu (LG 510W, 5200)
  7. 2945#*70001# Simlock menu (LG 7020,7010)

  1. Reset Blackberry : Alt+ Shift Kiri dan Del.
  2. Kode Display: *#06#
  3. Source code website: di browser tekan Alt+ R,B,V,S.
  4. Akses buku telepon: di buku telepon, tahan Alt + R,B,L,D.
  5. Konsistensi buku telepon: Tahan Alt+ V,A,L,D.
  6. Mengubah meter sinyal menjadi angka: Alt+ N,M,L,L.
  7. Log: Alt+ L,G,L,G.
  8. Simulasi kapasitas Bb: Alt+ Shift Kanan dan Del.

  1. Numer IMEI: * # 0 6 #
  2. Info o simlock`u: * # 8 3 7 7 #
  3. Security code: * # 1 2 3 4 # (Fizz) albo * # 7 4 8 9 #
  4. Philips DIGA phones:
  5. Blocking list *#3333*#
  6. Time connected *#2558*#
  7. Flags,something *#3377*#
  8. Security code *#7489*#

Philips FIZZ phones:

  1. IMEI code *#06#
  2. SW info *#8377*#
  3. Security code *#1234*#
  4. Philips SPARK phones:
  5. IMEI: *#06#

Philips GENIE phones:

  1. *#06# IMEI number
  2. *#2254*# Status register: C, BS, RR, MMI, CREAT.
  3. *#2255*# activate and deactivate the “DEBUG CALL”-Mode; when activated, make a call to a busy line an the phone will display some hex-codes on the display
  4. *#2558*# the time in days,hours and minutes you are connected to the net
  5. *#2562*# not clear; the phone reconnects to the net
  6. *#2565*# not clear; warmstart
  7. *#3333*# (NO) BLOCKING – list (15 items)
  8. *#2377*# “BEER”: not clear, the phone waits a random time and reconnects to the net
  9. *#3377*# Init, Flags, SIM LCK
  10. *#3353*# resets the (NO) BLOCKING – list
  11. *#7378*# Name, Length, SIM phase
  12. *#7489*# SECURITY CODE
  13. *#7693*# activate and deactivate the SLEEP MODE (when deactivated the battery will go down!)
  14. *#7787*# SPURIOUS INTERRUPT
  15. *#7948*# SWITCH OFF
  16. *#8463*# Some information about the SLEEP MODE: Wake, Sleep Req., Sleep
  17. *#06# -> Show IMEI
  18. *#9999# -> Show Software Version
  19. *#0001# -> Show Serial Parameters
  20. *2767*3855# -> Full EEPROM Reset ( THIS CODE REMOVES SP-LOCK!!!! but also change IMEI to 447967-89-400044-0, you must use CHGIMEI to restore it)
  21. *2767*2878# -> Custom EEEPROM Reset
  22. *#9998*228# -> Battery status (capacity, voltage, temperature)
  23. *#9998*246# -> Program status
  24. *#9998*289# -> Change Alarm Buzzer Frequency
  25. *#9998*324# -> Debug screens
  26. *#9998*364# -> Watchdog
  27. *#9998*377# -> EEPROM Error Stack
  28. *#9998*427# -> Trace Watchdog
  29. *#9998*523# -> Change LCD contrast
  30. *#9998*544# -> Jig detect
  31. *#9998*636# -> Memory status
  32. *#9998*746# -> SIM File Size
  33. *#9998*778# -> SIM Service Table
  34. *#9998*785# -> RTK (Run Time Kernel) errors
  35. *#9998*786# -> Run, Last UP, Last DOWN
  36. *#9998*837# -> Software Version
  37. *#9998*842# -> Test Vibrator
  38. *#9998*862# -> Vocoder Reg
  39. *#9998*872# -> Diag
  40. *#9998*947# -> Reset On Fatal Error
  41. *#9998*999# -> Last/Chk
  42. *#9998*9266# -> Yann debug screen (=Debug Screens?)
  43. *#9998*9999# -> Software version

Incoming search terms:

  • kode produksi blackberry
  • kode pembuatan BB
  • kode pembuatan blackberry
  • mengetahui tanggal pembuatan blackberry
  • kode produksi bb
  • melihat kode pembuatan bb
  • kode pembuatan hp bb
  • tempat pembuatan blackberry
  • kode tempat produksi nokia
  • kode pruduksi hp
Loading

Random Testimonial

  • ~ Dani – Manager IT PT.Exer Indonesia

    dani"Kami minta tolong Dimas untuk membuatkan beberapa website Perusahaan. Alhamdulillah website dibuat dari NULL dan semua berjalan hingga sekarang. Tak ada kata selain mantab dan"

  • ~ H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA – Ketua Umum Yayasan Muntada Ahlil Quran(www.muntadaquran.net)

    th"Saya kenal dimas...seingat saya di penghujung tahun 2008 lalu...sejak saat itu silaturrahim saya terus terjalin dengannya walau hanya di dunia maya...seorang yang 'berambisi' untuk meraih ganjaran terbaik dari Allah SWT, yaitu surga-Nya, terbukti di sela-sela kesibukannya...selalu banyak membantu orang lain...saya www.hajimurah.com dan lembaga saya www.muntadaquran.net adalah diantara ajang 'pelampiasan' Dimas untuk bisa beramal shalih... masih banyak tentang kebaikan Dimas...tapi kalo semua saya tulis di sini nanti Dimas jadi GR....wassalam, Taufik Hamim"

  • ~ Bu Tuti & Bu Novi- Rumahteduh.com

    bututi"dimas...thanks ya dah bantu kami membuatkan website & memasarkan kerajinan tangan kami . semoga makin sukses"

  • ~ Istriku – Yang selalu support aku

    foto-tri""suamiku seorang pekerja keras...bahkan aku sering dilupakan ...:) tapi aku support terus untuk kesuksesannnya dan kerja"

  • Read more testimonials »

Sedang Istirahat Coding

Maaf saat ini saya sedang FULL JOB , jadi tidak dapat handle project pembuatan website lagi


Terima Kasih

Donasi & Pembayaran

  • BCABCA
    no.rek 4760733496 an Muhammad Dimas Sasongko,ST
  • Bank MANDIRIBank Mandiri
    no.rek 155-00-0269064-5 an Muhammad Dimas Sasongko,ST
  • BRIBRI
    no.rek 0392-01-001350-50-0 an Muhammad Dimas Sasongko,ST
  • Via Paypal: mdimassasongko@gmail.com

Advertise

Alexa Traffic

Recent Post